Entri Populer

Senin, 04 Mei 2009

Anda Achiever Atau Sekedar Komentator ?

Untuk persoalan yang satu ini Indonesia juaranya. Itu bukan opini saya
pribadi, tetapi sudah menjadi semacam rahasia umum bahwa kita, sangat jago
dalam hal itu. Anda bisa menemukannya tidak hanya dalam pertandingan olah
raga, dalam dunia politik juga banyak, bahkan di dunia hiburan. Yang saya
maksud adalah komentator alias tukang komentar. Kita memang sangat jago
dalam hal berkomentar. Contoh sederhana, coba perhatikan pertandingan sepak
bola luar negeri, Anda akan saksikan betapa hebatnya para komentator
Indonesia mengomentari pemain-pemain dunia sekelas Ronaldinho atau Ronaldo.
Seharusnya mereka begitu, begitu, mengapa mereka tidak begini begitu…dst.
Herannya mereka dibayar untuk itu. Jika seorang motivator dibayar untuk
memotivasi, trainer dibayar untuk mentraining, dokter dibayar untuk
mengobati, photographer dibayar untuk memotret, komentator dibayar hanya
untuk berkomentar. Seakan tanpa komentator acara sehebat piala dunia
sekalipun, terasa hambar..ha..ha..ha..

It’s ok dengan para komentator bola, politik, bulutangkis, pertandingan
sulap atau nyanyi, karena jika kita tidak suka, kita tinggal switch channel
TV ketempat lain. Persoalan selesai. Tetapi komentator yang berbahaya justru
yang berada dikeseharian kita, kantor, sekolah bisnis ataupun dunia bisnis.
Setiap saat Anda dan saya dipaksa untuk berhadapan dengan mereka. No where
to hide. Jika di dunia hiburan, politik atau olah raga, para komentator
dibayar, di dunia real mereka tidak dibayar. Greeetong ! Satu lagi, didunia
real para komentator akan nyeletuk, meskipun Anda dan saya tidak meminta
pendapat mereka sama sekali. Seakan-akan mereka mencari tempat untuk
menyalurkan hobby mereka itu.

Para komentator, sesuai sebutannya sering kali hanya doyan mengamati dan
mengomentari –biasanya yang buruk- tentang apa yang Anda dan saya coba
kerjakan dengan gagah berani. Betapapun besar perjuangan, seberapa berat
mengatasi perasaan takut, seberapa gugup Anda bertahan, seberapa letih
perjuangan, tidak akan mereka pedulikan. Hanya hasil yang akan mereka
komentari. Wajar. Mereka di tribun penonton, sementara kita di arena
pertandingan. Mereka menonton sambil menggenggam ice cream, Anda dan saya
berpeluh menahan haus. Pendeknya kita di dunia nyata, mereka di awang-awang.
Kita babak belur dihajar resiko, mereka mandi bunga dengan teori-teori.

Anthony Robbin dalam bukunya Unlimited Power menulis demikian, *“ Another
attribute great leader and achievers have in common is that they operate
from belief that they create their world. The phrase you’ll hear time and
again is,”I am responsible, I’ll take care of it”. (page 75).* Itulah
bedanya achievers dengan para komentator. Komentator bebas lepas, tetapi
achievers selalu siap bertanggung jawab tanpa mencari kambing hitam.

Sering kali para komentator dunia ini membuat para pejuang yang memiliki
cita-cita menjadi ciut nyalinya. Mengapa ? karena komentator sangat ahli
menyatakan apa yang salah dari perjuangan kita. Itu spesialisasi mereka.
Menemukan apa yang salah. Dan kita sebagaimana wajarnya seorang manusia,
sangat takut untuk dituding “bersalah” atau “gagal”. Siapa sih yang tidak
takut terhadap kesalahan ? Dicap demikian serta merta menggiring kita
tontonan dan olokan sekitar. Sementara secara psikologis itu sangat
berpengaruh melucuti kepercayaan diri kita. Kemungkinan besar menghentikan
seluruh potensi kreasi kita, dan langsung membuat kita beku, laksana mayat
hidup. Kapok.

Ada sebuah tips, yang sekarang ini terus menerus saya disiplinkan sebagai
sebuah “kebiasaan” dalam diri saya. Tips itu adalah, jangan pernah memandang
sebuah kesalahan sebagai kesalahan, tetapi sebagai pelajaran. Kita melakukan
A, mengharapkan hasil A, tetapi ternyata menghasilkan B. Sebuah kesalahan ?
No way ! Toh kita menghasilkan B, hanya saja kebetulan yang kita harapkan
adalah A, jadi mari kita ubah usaha kita itu. Dengan begitu tidak ada
istilah “sia-sia” atau “failure”, yang ada hanya menghasilkan hasil yang
lain.

Ndilalah..Anthony Robbin dalam buku yang sama, mengatakan hal yang mirip
juga. *“Winner, leaders, masters –people with personal power-all understand
that if you try something and do not get the outcome you want,it’s simply
feedback. You use that information to make finner distinctions about what
you need to do to produce the result you desire”.* Tidak ada usaha yang
sia-sia alias kegagalan, yang ada hanyalah hasil yang mungkin bukan yang
kita harapkan. Dan ini bukan kesia-siaan karena setiap usaha pasti
menghasilkan sesuatu, yaitu pengalaman. Experience !! Disinilah bedanya
pelaku dengan komentator. Para pelaku entah apapun hasil dari usaha mereka,
selalu akan mendapat upah yang mahal berupa experience.

Ada lagi bagian dalam buku Anthony Robbin yang ingin saya share ke Anda,
rentetan kalimat yang saya anggap powerfull. *“People who believe in failure
are almost quaranteed a mediocre existence. Failure is something that is
just not perceived by people who achieve greatness. They don’t dwell on it.
They don’t attach negative emotions to something that doesn’t work” (page
73). *

Itu khan bahasa Sansekerta, nah terjemahan bebasnya kira-kira begini.
“Orang-orang yang percaya pada kegagalan dapat dijamin biasa-biasa saja
keberadaannya. Kegagalan adalah sesuatu yang tidak dipersepsikan oleh mereka
yang mencapai hal-hal besar. Mereka tidak terpuruk pada kegagalan. Mereka
tidak mengaitkan emosi-emosi negatif pada sesuatu yang tidak berhasil.”

Nah jika sekarang Anda sedang berada dalam keadaan bimbang tentang sesuatu
yang Anda perjuangkan atau mungkin berada dalam suatu ketakutan yang sangat
terhadap binatang bernama kegagalan. Anda tidak sendirian. Jutaan pejuang
seperti Anda, yang dengan gagah berani berjuang demi cita-cita mereka sedang
bertarung juga persis seperti Anda, termasuk Saya. Mari kita nikmati proses
pembelajaran ini, no matter what will come as a result. Menutup tulisan
panjang ini sebuah humor yang saya dapatkan dari seorang tukang taxi,
tentang perbedaan reporter bola indonesia dan reporter luar negri.

Kalau reporter luar negri, karena sadar bahwa pemirsa juga sedang
menyaksikan apa yang dia saksikan, sedikit ngomongnya.
“Ronaldo………Sebastio………Kaka…”. Pokoknya yang komentarnya yang penting-penting
saja, karena toh sama-sama sedang nonton. Tetapi reporter bola Indonesia
beda banget. Sang reporter merasa cuman dia yang lagi nonton yang lain gak
punya TV !! “Bambang menahan bola dengan kaki kanannya, kemudian digiring
sejenak, mencari teman dia. Kemudian bola dioper ke Morales. Hampir meleset.
Kini bola di Morales, mencari kawan terdekat. Ambil inisiatif penyerangan.
Disana ada Aliyuddin. Agak ragu Morales, coba memainkan bola sendiri. Lawan
datang menghampiri,bergumul mereka. Akhirnya bola dioper ke Aliyuddin.
Hati-hati Ali. Dengan cepat Aliyuddin menggiring bola maju kedepan
berhadapan dengan kiper lepas tembakan Gooooolllllll….”